Perempuan-perempuan itu begitu gelisah…
“Kemana para ikhwan..?”. Mereka berguman, mereka gemas. Tidakkah kasihan dengan senja yang terus mengejar. Umur 27 bahkan 30 lebih, masih saja dalam penantian. Menunggu dengan harap-harap cemas akan datangnya lelaki dengan ikrar cinta yang tulus. Sementara, hari berganti, semakin lama, semakin menyesak dan menggelisahkan. Ikhwan-ikhwan itu, kenapa hanya bisa diam. Kenapa tak berani untuk menyongsong sebuah momentum yang agung, momentum yang suci itu. Tunggu apa lagi.
Begitulah yang terjadi.
Fenomena ini merebak di komunitas “Sekolah Kehidupan”
Para ikhwan, sebutan lelaki aktivis masjid, mungkin hanya bisa terdiam. Bisa jadi tertohok. Atau, kadang hanya senyum-senyum saja. Mengomentari dengan nada tinggi, atau dengan sikap pembelaan diri yang berlebihan, tentu bukan langkah yang tepat. Mengiyakan, barangkali perlu walau kadang tak semuanya benar.
“Ikhwan itu sukanya yang putih, tinggi, cantik”. Ini sekedar contoh. Kalau perempuan beranggapan begitu, tentu tak selamanya benar. Bisa jadi, ada lelaki yang memang suka dengan ciri-ciri yang semacam itu. Tapi, toh hanya sebatas kasus saja. Dan, itupun sepertinya tak banyak. Justru, banyak lelaki yang suka perempuan karena “akhlaknya” yang baik. Yang demikian, bisa berlaku buat siapa saja. Setiap perempuan bisa memilikinya. Karena ini kecantikan sikap. Karena ini kecantikan hati. Karena ini kecantikan jiwa.
Lalu, satu hal yang sepertinya perlu menjadi renungan.
Cinta itu bukan memiliki, cinta itu memberi…
Lelaki yang baik tentu begitu.
Untuk bisa memberikan yang terbaik, tentunya mesti punya bekal yang cukup. Entah fikrah (pemikiran) maupun wawasan KeIslaman yang cukup untuk bisa menjadi partner baik. Begitu juga dengan bekal materi. Setiap lelaki, tentu punya hasrat yang tinggi untuk memberikan nafkah hidup yang layak. Kesemuanya ini perlu kesiapan. Perlu usaha yang kadang panjang. Ketergesa-gesaan, tentu tak baik. Sebab, cerita ketergesa-gesaan sering tak sedap untuk didengar. Apalagi, sebagai teladan atas sebuah keluarga yang harmonis, bahagia, damai.
Memang, bagi seorang perempuan, menunggu pasti membosankan…
Lelaki yang baik, yakin, pasti memahaminya.
Satu hal yang pasti, jodoh ada ditangan Tuhan. Ditangan Allah SWT. Kadang kita tak tahu siapa dia. Begitu juga kapan datangnya. Lelaki yang baik, tentu akan berikhtiar untuk segera menyongsong ikrar cinta suci itu. Mana ada yang sengaja menunda-nunda kalau sudah siap. Dan, bekal kesiapan itu tak ada lain dengan berusaha dan berusaha sekuat tenaga agar kematangan jiwa, kematangan pikiran, kematangan finansial tergapai. Kalau masih saja belum bisa, puasa menjadi solusinya. Begitu Islam mengajarkannya.
Lantas, bagaimana dengan perempuan-perempuan itu. Tetap ada usaha yang bisa dilakukan, berbuat selangkah lebih maju itu bagus. Seperti yang dicontohkan Khatidjah, kepada Muhammad. Dia yang memulainya, dan Muhammad pun menerima sepenuh hati, sepenuh jiwa. Kalau tak bisa. Ya, tak ada pilihan lain. Berdoa, dan bersabarlah. Banyak cerita menyenangkan ketika perempuan-perempuan sabar itu akhirnya toh mendapatkan jodoh juga yang sesuai dan ternyata cocok, bahkan lebih baik dari yang diimpikan sebelumnya. Namun, ketika ikrar cinta masih tertunda. Belum hadir lelaki pemberani menyongsongnya. Bersabarlah. Yakin saja, bahwa setiap kesabaran, akan manis pada akhirnya. Semoga.